Photo by rawpixel on Unsplash

LANGKAH pertama selalu menjadi awal yang sulit bagi seseorang yang akan membuat konten untuk website. Membuat konten mungkin mudah, tapi konten yang menarik sekaligus berkualitas itu bukan pekerjaan mudah. Maka seseorang harus memiliki setidaknya tiga modal awal atau kemampuan dasar untuk menjadi content writer atau penulis konten yang berkualitas.

Menjadi sekadar penulis konten mungkin mudah. Tapi menjadi seorang yang bukan sekadar bisa menulis itu sulit. Gampangannya kalau hanya mau membuat konten, bisa saja seseorang melakukan jalan pintas dengan menyalin konten atau artikel dari website lain.

Jelas hal ini sudah bertolak belakang dengan pengertian konten berkualitas itu sendiri. Meski, jika dilakukan dengan cara yang tepat, menyadur tulisan dari sumber yang sudah ada juga tidak ada salahnya.

Sebenarnya untuk menjadi content writer yang pekerjaaanya membuat konten berkualitas dan menarik itu kita bisa belajar dari media massa. Mereka memiliki rumusan yang dipakai sejak media massa itu hadir. Media massa sudah punya rumusan baku berita apa yang akan disajikan kepada pembaca, penonton atau pendengar.

Di media massa, syarat berita agar dimuat itu sangat terukur. Bisa saja berita yang dibawa oleh wartawan dari hasil reportase itu sangat banyak, namun yang pasti tidak semuanya akan dimuat.

Ada kriteria news value atau nilai berita. Artinya sebuah peristiwa, kejadian yang akan ditulis oleh wartawan memiliki nilai berita atau tidak. Setelah itu, ada juga mekanisme di media untuk menentukan apakah berita yang sudah ditulis itu layak siar atau layak muat (news worthy) tidak. Jadi belum tentu sebuah peristiwa yang memiliki nilai berita juga layak muat.

Dengan mekanisme yang berlapis, tidak heran jika media massa menjadi media yang dipercaya. Hal ini karena konten yang mereka buat memang memiliki kualitas dan juga penting atau menarik untuk dibaca. Nah, sosok yang menjadi penulis berita atau wartawan inilah yang bisa menjadi gambaran seorang penulis konten yang berkualitas.

Dalam dunia media, wartawan menjadi ujung tombak untuk membuat berita. Sebagai seorang penulis berita, mereka tidak langsung tiba-tiba bisa membuat berita.

Ada kemampuan dasar atau modal dasar  yang harus mereka kuasai. Mereka harus bisa mencari bahan berita, mengolahnya menjadi tulisan dan menyajikannya menjadi tulisan yang utuh.

Modal dasar seorang wartawan saat akan mengumpulkan bahan berita inilah yang bisa digunakan untuk menjadi penulis konten berkualitas. Berikut ini kemampuan dasar yang harus dimiliki wartawan dalam mengumpulkan bahan-bahan berita.

  1. Observasi

Seorang wartawan harus menggunakan panca inderanya untuk mengumpulkan bahan-bahan yang akan diolah melalui tulisan. Misalnya ia ingin menceritakan betapa enaknya sebuah masakan yang ia makan.

Maka tidak cukup indera perasa saja yang bercerita. Ia bisa menuliskan bagaimana bentuk makanan, aroma makanan hingga suasana tempat dimana dia makan. Observasi akan menjadikan tulisan atau konten lebih berkualitas dan menarik karena pembaca akan seperti merasakan langsung dengan indera yang mereka miliki.

  1. Wawancara

Photo by Seth Doyle on Unsplash

Wawancara menjadi kemampuan dasar bagi seorang wartawan. Apa fungsi wawancara? Wawancara dilakukan untuk mengetahui kesan, pesan, pendapat dari narasumber. Adanya hasil wawancara akan menambah bobot dari konten yang dibuat. Bagaimanapun pembaca akan lebih percaya dengan artikel yang  sumbernya jelas.

  1. Riset Data /dokumentasi

Untuk mengumpulkan bahan tulisan seorang wartawan juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan riset data atau dokumentasi.  Sebuah berita yang baik dan berkualitas sudah selayaknya juga dilengkapi dengan data-data yang akan membuat informasi yang akan disampaikan berkualitas.

Kemampuan untuk melakukan riset serta membaca data untuk kemudian diolah menjadi konten tulisan memerlukan keterampilan tersendiri.

Ketiga kemampuan di atas harus dimiliki seorang wartawan, apakah itu media cetak, televisi, radio juga media online. Jika tiga kemampuan dasar di atas dimiliki oleh seorang penulis konten, maka seharusnya tidak ada alasan untuk membuat konten yang biasa-biasa saja.

Apalagi jika tiga kemampuan tersebut dikuasai oleh seseorang, maka setidaknya ia memiliki modal awal untuk menjadi penulis konten atau content writer berkualitas. (*)

(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *