MUSIM dingin di Jepang tengah hebat-hebatnya. Rustono, di tengah hujan salju berada di atap sebuah bangunan. Ia tengah memasang atap saat teriakan seseorang memintanya turun.

“Hey turun. Kamu bisa mati jatuh dari situ,” kira-kira begitu teriakan orang Jepang tersebut memintanya turun. Rustono pun turun, menemui laki-laki muda. Ia tidak menyangka, pertemuan tersebut menjadi pintu masuk tempe buatannya dikenal bukan hanya di Jepang, tapi di dunia!

Ia dinasehati untuk tidak naik ke atap rumah saat hujan salju. Laki-laki Jepang itu bertanya, apa yang ia lakukan.

Rustono, tersenyum dalam dekapan musim dingin di Jepang. Ia berada dia atap rumah karena sedang mewujudkan impiannya.

Laki-laki itu pamit pergi. Ia berjanji akan datang ke esokan harinya untuk menemui Rustono. Janji itu ia tepati, laki-laki Jepang itu menyerahkan kartu namanya.

“Dia wartawan, tertarik dengan impian saya tentang tempe. Kemudian saya ceritakan tentang diri saya dan perjuangan saya saat menjual tempe,” kata Rustono.

Hari berikutnya, cerita tentang Rustono muncul satu halaman di koran berbahasa Jepang. Cerita tentang tempe sendiri mungkin hanya dua paragraf. Tulisan lainnya tentang kisah Rustono membangun impiannya.

Dua hari setelah koran terbit, telepon Rustono terus berdering. Dari seberang terdengar suara orang yang memesan tempe. Salah satu penelopon mengatakan kepada Rustono.

“Kamu mungkin tidak mengenal saya, tapi saya tahu kamu yang kemarin datang ke restoran saya membawa benda putih (tempe) itu. Saya ingin memesannya padamu,” kata Rustono menirukan suara di seberang telepon.

Orang-orang Jepang ternyata tertarik dengant tempe buatan Rustono awalnya bukan karena lezatnya tempe atau karena kandungan gizi yang ada di tempe seperti yang dipromokan Rustono kepada warung makan atua restoran yang ia tawari tempe buatannya. Tapi mereka membeli setelah tahu perjuangannya menjual tempe.

“Bayangkan, di musim salju, saya datangi satu persatu warung makan atau restoran. Saya datangi sepuluh diantaranya, tidak ada satupuun yang membeli. Saya berpikir pasti nanti ada yang membeli,” kata Rustono.

Hal itu ia lakukan terus menerus, sampai jumlah warung makan yang ia kunjungi tak terhitung. Bahkan karena putus asanya ia pernah datang ke sebuah warung makan. Tanpa berkata-kata ia pegang tangan pemilik restoran, kemudian ia ambil tempe dan letakan di atas tangan pemilik restoran itu. Ia kemudian berlalu begitu saja.

Rustono tidak menyangka jika kemudian justru ceritanya jatuh bangun mewujudkan mimpinya justru yang membuat tempe akhirnya laris manis. Sekarang di Jepang, ada sekitar 200 menu tempe yang Rustono sendiri tidak hafal menunya.

Ia masih fokus membangun mimpinya membuat masyarakat dunia mencicipi tempe. Ia kini bekerjasama dengan murid-muridnya menjual tempe di berbagai belahan dunia. Semuanya diawali sebuah konten tulisan di media massa.

Studio Konten percaya akan kekuatan sebuah cerita. Kami di Studio Konten percaya bahwa sebuat kisah bisa menjadi pembuka bagi kesuksesan seseorang. Contohnya adalah kisah dari Rustono. Karena itulah kami hadir membantu klien kami untuk membuat sebuah konten dengan perencanaan sehingga tepat sasaran.

(Visited 85 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *